CerpenSastra

Aku Pasti Bisa

karya Faqih Abdanihaj Alfarisy

Namaku Rendy Satriya Hadi biasa dipanggil Rendy. Aku adalah seorang remaja laki-laki yang berasal dari Palangkaraya dan baru saja lulus SMA. Setelah lulus aku memilih merantau ke Jogja untuk melanjut ke perguruan tinggi, bukannya aku tidak ingin bersama dengan keluargaku tapi yang membuatku memutuskan untuk merantau karena aku ingin sekali belajar mandiri dan menambah pengalaman baru. Walaupun orangtuaku memaksaku untuk melanjutkan pendidikanku disana tapi aku tetap tidak mau membebani orangtuaku lagi. Dan akhirnya aku merantau demi mencari ilmu untuk menempa diri agar memiliki pribadi yang lebih baik lagi. Dan aku yakin aku pasti akan meraih kesuksesan disuatu saat nanti.

Aku adalah anak manja, yang sebelumnya belum pernah merantau ke daerah lain dan tidak tahu tentang kerasnya hidup ini. Aku yang biasanya selalu meminta, kini pergi merantau seorang diri, meninggalkan keluarga karena ingin mencoba hidup mandiri. Dan sesampainya di perantauan, aku mengikuti tes untuk masuk ke salah satu universitas di kota pelajar Jogjakarta dan Alhamdulillah aku keterima di jurusan pendidikan biologi.

Karena aku ingin sekali mandiri aku hanya membawa sedikit uang sangu dari orangtuaku dan untuk biaya kuliah, memang selama kuliah tak pernah sedikitpun aku mengeluarkan biaya kuliah karena beasiswa selalu kudapatkan setiap saat karena prestasiku dan adapun untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari aku melakukan beberapa pekerjaan sampingan seperti menjadi tukang parkir.

Selain menjadi tukang parkir, setiap pagi hari aku menggoreng gorengan buatanku yang nantinya akan aku titipkan di kantin kampus dan juga menitipkannya di warung-warung dekat tempat kostku. Aku ingat sekali, hari-hari kulalui dengan sulit, kadang telat masuk kuliah karena harus menggoreng gorengan. Namun, usahaku tidak sia-sia. Tiga setengah tahun kuliah, akhirnya aku lulus.

Bahkan aku ingat masa-masa sulit tiga setengah tahun itu, saat aku tak punya uang, hanya sedikit uang untuk beberapa hari. Oleh karena itu aku menjual handphoneku. Kujual ke konter dekat tempat kostku, dengan laku seharga 170 ribu. Aku mengatur sedemikian rupa agar uang 170 ribu itu bisa memenuhi kebutuhanku sehari-hari.

Karena aku menjual handphone, aku jadi tak bisa menghubungi orangtuaku di Palangkaraya. Sebelumnya, aku mencatat nomor orangtuaku di buku kecil milikku. Namun dengan kebetulan buku itu hilang sehingga masa-masa sulitku bertambah karena tak bisa menghubungi orangtuaku, mau pulang ke Palangkaraya pun uang tak ada. Hanya doa yang mengiringi hidupku di kota pelajar yang penuh dengan tantangan dan rintangan hidup seorang diri serta tak lupa kupanjatkan rangkaian doa yang selalu menggema di tempat aku shalat untuk orangtuaku.

Akan tetapi tiga setengah tahun masa sulitku, akhirnya terbayarkan juga dengan satu hari terbaik dalam hidupku dimana ketika bunga penghargaan berada di tangaku alias hari dimana aku diwisuda. Waktu itu keadaanku sudah lebih baik, mendapatkan kembali buku kecil miliku yang di dalamnya terdapat nomor orangtuaku tercinta dan juga dapat membeli handphone dari hasil usaha gorengan dan menjadi tukang parkir. Yang tak kalah membahagiakan ketika orangtuaku dari Palangkaraya pada datang ke Jogjakarata hanya untuk melihat aku diwisuda.

Wisuda berjalan lancar, bahkan sangat lancar. Tak kusangka ketika aku “Rendy Satriya Hadi”  seorang perantau dari kota Palangkaraya yang nekat merantau seorang diri mampu menjadi lulusan terbaik dengan nilai cumlaude.

============================================================================

Cerita ini hanyalah fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama dan tempat, bukanlah hal yang disengaja.

Cerita ini adalah karangan dari teman saya yang bernama Faqih Abdanihaj A. Saya mohon maaf apabila dalam menulis cerpen ini terdapat kata yang kurang pas / jalur cerita yang kurang pas.

Semoga cerpen ini dapat menjadi pelajaran dan inspirasi bagi pembaca yang budiman !! ^^

Terima Kasih

Tags

Related Articles

Check Also

Close